NEED HELP?   CONTACT US!   +62-21-835-3685
 

Masih ingat kasus pencegatan rombongan motor gede (moge) Harley Davidson beberapa pekan lalu oleh seorang pesepeda di Yogyakarta? Peristiwa itu dipicu oleh Elanto Wijoyono, seorang warga yang kesal karena rombongan moge tersebut tak mengindahkan rambu-rambu lalu lintas.

Kemudian tersiar kabar, rombongan moge lainnya juga mengeroyok pengguna jalan lain, gara-gara senggolan di jalan.

Kasus lain yang menjadi pembicaraan dan sorotan media terkait lalu lintas terjadi pada Juni lalu. Seorang pegawai negeri sipil Kabupaten Bogor meninggal dunia setelah terlibat baku hantam di jalan tol Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Penyebabnya sepele, yakni berebut masuk gerbang tol Bogor Outer Ring Road. Insiden kecil itu berlanjut dengan aksi saling salip di jalan tol. Puncaknya, korban dan pengemudi lain menepi, lalu terlibat baku hantam di pinggir jalan. Korban meninggal dunia karena luka-luka yang dideritanya.

Pada 28 Juli 2015, insiden road rage atau amarah di jalan raya juga kembali menghebohkan. Di jalan tol Jakarta Outer Ring Road, seorang pengendara mobil bernama Rahmanto menembakkan peluru senjata airsoft gun miliknya ke mobil lain yang dikendarai seorang warga bernama Dwi.

Meski tak sampai melukai pengendara dan pengemudi mobil, tapi insiden penembakkan ini juga jadi berita besar. Lagi-lagi, penyebabnya hal kecil, yakni aksi saling salip di jalanan.

Kita tak tahu siapa yang kita hadapi di jalanan

“Seharusnya dua insiden itu tidak terjadi kalau salah satu orang yang terlibat bisa mengontrol emosi,” kata Instruktur Senior Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Boy Falatehansyah, dalam acara Ford Driving Skills for Life di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pertengahan Agustus lalu.

Menurut Boy, urusan mengemudi kendaraan di jalan raya itu bukan cuma urusan kemampuan teknis. “Kalau mau dipersentasekan, sebetulnya skill mengemudi itu hanya berperan 10 persen dalam soal keselamatan di jalan raya, sisanya yang 90 persen justru soal emosi,” ujarnya.

Emosi ini, kata Boy, adalah salah satu soft skill yang harus dimiliki pengguna kendaraan sebelum “terjun” ke medan perang bernama jalan raya.

Di jalan, segala kemungkinan bisa terjadi. Karena, kata dia, kita sebagai pengguna jalan juga berbagi dengan pengemudi lain. “Kita tidak pernah tahu perangai ataupun kondisi pengemudi lain di sekitar kita.”

Bisa saja, saat di jalan kita bertemu dengan orang yang baru mendapat masalah sehingga emosinya labil. “Atau kemungkinan terburuk bertemu dengan pengemudi mabuk,” ucap Boy.

24x7 support +62-21-835-3685
Opening Hours Mon - Fri 9 am to 5pm