7 Langkah Ini Bikin Kamu Jago Mengemudi Pakai Mobil Manual

Lonjakan volume kendaraan roda empat di Tanah Air sayangnya tidak diiringi dengan peningkatan kesadaran teknik mengemudi, banyak pengemudi khususnya pemula yang kerap kali mengabaikan aspke aspek dalam berkendara khususnya mobil manual, sehingga terjadi kecelakaan atau berbenturan dengan kendaraan lain akibat minimnya pengetahuan mengemudi.

Menurut pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, hal terpenting dan pertama yang harus dilakukan adalah si pengemudi pemula harus menyesuaikan diri dengan karakter mobil, baik itu tenaga mesin, pengereman, profil kemudi, serta dimensi mobilnya.

Selain itu, setidaknya ada 7 hal yang perlu diperhatikan secara umum agar mahir mobil dan khususnya bertransmisi manual, apa saja? simak ulasan kumparanOTO.

1. Setelah mendapatkan SIM, sebaiknya membiasakan menyetir selama 90 hari

Menurut Jusri, setelah seorang pemula dinyatakan lulus dari sekolah mengemudi dan mendapatkan SIM A, sebaiknya terus melakukan latihan mengemudi selama 90 hari berturut-turut. Hal ini untuk terus membiasakan diri agar adaptasi dengan karakter kendaraan dan lingkungan terus terbentuk.

“Secara mental dia akan percaya diri, dari percaya diri dia akan nyaman, sehingga seiring dengan lamanya adaptasi, dia dapat mengerti karakter kendaraan dan pengguna jalan lain serta membiasakan teknik safety driving,” ujar Jusri saat dihubungi kumparanOTO.

2. Membiasakan diri antara kopling dan gas

Hal berikutnya yang harus diperhatikan adalah membiasakan diri ketika melepas kopling dan berakselerasi dengan menginjak gas. Jusri menambahkan, untuk hal ini tidak selalu pemula yang harus membiasakan diri, banyak orang yang justru sudah mahir mengemudi bahkan terkendala melepas kopling.

“Membiasakan meng-handling kendaraan terutama kombinasi gas dan kopling, banyak pemula bahkan yang pengalaman pun kurang tepat dalam kondisi ini, kebanyakan mereka menggunakan power berlebih, harusnya tidak diperlukan. Harusnya awalan itu setelah rem tangan dilepas, bersamaan kopling juga dilepas, kaki kanan dari pedal rem juga dilepas, rasakan momentum pergerakannya dan tambah dengan powernya dengan menginjak gas pelan-pelan,” tambah Jusri.

 

Pedan transmisi mobil manual (Foto: Pixabay)

Adapun, ketika tidak terbiasa dengan kebiasaan tersebut, yang terjadi selanjutnya adalah engine stall, alias mesin akan mati mendadak akibat tidak selarasnya pelepasan kopling dengan momentum atau laju mobil.

 

3. Gunakan putaran mesin rendah saat perpindahan gigi

 

Setelah berlatih melepas kopling, langkah selanjutnya yang harus dibiasakan adalah menggunakan putaran mesin rendah saat melakukan perpindahan gigi. Bukan berarti tidak dianjurkan berpindah gigi dalam putaran mesin tinggi, dengan kebiasaan putaran rendah, mental mengemudi secara halus akan terbentuk tanpa disadari.

“Kalau mobil manual dan bensin, maka saat tidak menyalip dan pada kondisi datar, biasakan perpindahan gigi (naik)maksimum pada 2.000-2.200 rpm, bila deselerasi, lakukan saat putaran mesin sudah di bawah 2.000 rpm. Nah kegunaannya dengan kebiasaan seperti itu akan menghemat bahan bakar juga gaya berkendara yang nyaman (tidak agresif),” tutur Jusri.

4. Jaga kecepatan sesuai kondisi

Pengemudi pemula terkadang membawa mobil dalam kecepatan yang sangat rendah, sehingga menyebabkan pengguna jalan lain terganggu. Jusri menjelaskan, dalam benak pemula mengendarai mobil dengan kecepatan rendah akan membuatnya aman, hal tersebut justru kesalahan yang harus dikendarai.

“Dalam mengatur kecepatan harus sesuai kondisi lalu lintas di jalan, jangan sampai bedanya (kecepatan) signifikan. Mereka harusnya tenang, seperti di tol, jangan terlalu lambat atau terlalu cepat, itu bahaya, terlalu lambat jauh lebih berbahaya. Ini bisa mengancam keselamatan diri dan mengancam pengguna jaan lain, dalam otak mereka aman (berjalan pelan), itu salah, lambat sesuai kondisi oke, terlalu lambat itu bahaya,” tegas Jusri.

5. Latihan berpindah lajur

Selanjutnya tidak kalah penting adalah terus membiasakan diri berlatih berpindah lajur. Para pemula kerap kali tidak melihat spion ketika berpindah lajur, sehingga yang terjadi adalah sebelum dirasa aman, mereka berpindah lajur dan membuat pengguna jalan lain kaget.

 

Ilustrasi Belajar Mengemudi (Foto: pexels.com)

“Biasakan ketika berpindah lajur selalu lihat spion, fungsi kaca spion itu alat bantu untuk melihat bidang pandang yang dituju, misal mau ke kanan, maka cek spion kanan, ingat kaca spion adalah alat bantu, utamanya setelah itu konfirmasi dengan cara menoleh sekilas untuk memastikan titik buta (blind spot), karena 1 meter dari pilar B sudah ada blind spot, jadi besar kemungkinan ada objek yang tidak terlihat,” jelas Jusri.

6. Latihan memutar setir kemudi

Setelah dirasa mahir menjaga kecepatan dan berpindah lajur, langkah selanjutnya yang wajib dilakukan adalah berlatih memutar kemudi. Bukan tanpa sebab, pengemudi pemula terkadang kurang memperhitungkan gerak ban, sehingga yang terjadi adalah belok terlalu patah atau terlalu melebar.

Soal ini, Jusri menekankan untuk terus berlatih membelokan setir, tidak harus di jalan raya, latih lah di lapangan terbuka yang diperbolehkan untuk berlatih mengemudi atau jalan perumahan yang terdiri dari banyak blok.

Mudahnya saat berbelok, putar setir secara halus dan santai, kemudian rasakan momentum mobil menikung, apabila dirasa kurang menikung tambah lagi dengan memutar setir ke arah mobil menikung. Sebaliknya ketika hampir mendekati sejajar dengan garis jalan, tahan putaran setir dan putar kembali setir ke arah berlawanan.

7. Terus memastikan keadaan sekitar aman

Visibilitas pengemudi pemula juga kadang hanya terfokus melihat depan saja, padahal sebagai pengemudi wajib hukumnya untuk selalu memastikan keadaan sekitar dalam kondisi aman. Bisa gunakan spion samping dan tengah, atau sun roof untuk melihat visibilitas ke atas, juga indikator lain yang tersedia pada mobil seperti lane departure warning dan blind spot monitoring system.

“Harus memastikan bahaya itu tidak hanya di depan, bahaya secara umum dari 4 sisi, depan, kanan-kiri, dan belakang, juga potensi bahaya lainnya bisa datang dari atas atau bawah, contoh ketika melewati fly over atau jalur yang sedang dikonstruksi sehingga bentuk antisipasi dapat dimaksimalkan. Tidak melulu perhatikan dari sisi dalam mobil, sisi luar juga perlu diperatikan, nah itu bisa dilakukan (antisipasi) kalau membiasakan diri dari awal” ucap Jusri.

 

Ilustrasi berkendara saat hujan. (Foto: REUTERS/Carlo Allegri)

Tips aman dari Jusri ketika berhadapan langsung potensi kecelakaan adalah jangan langsung menginjak pedal rem, rencanakan perlambatan dengan terlebih dahulu mengecek spion, ketika sisi belakang dan samping aman, baru bisa memperlambat laju mobil dengan menginjak rem dilanjut menginjak kopling agar mesin tidak mati.

Itu dia 7 langkah awal yang dapat kamu praktekkan agar semakin mahir mengemudi, jangan lupa selalu kenakan sabuk keselamatan sebelum berkendara dan pastikan semua penumpang kamu juga mengenakannya ya!