Masih ingat kasus pencegatan rombongan motor gede (moge) Harley Davidson beberapa pekan lalu oleh seorang pesepeda di Yogyakarta? Peristiwa itu dipicu oleh Elanto Wijoyono, seorang warga yang kesal karena rombongan moge tersebut tak mengindahkan rambu-rambu lalu lintas.

Kemudian tersiar kabar, rombongan moge lainnya juga mengeroyok pengguna jalan lain, gara-gara senggolan di jalan.

Kasus lain yang menjadi pembicaraan dan sorotan media terkait lalu lintas terjadi pada Juni lalu. Seorang pegawai negeri sipil Kabupaten Bogor meninggal dunia setelah terlibat baku hantam di jalan tol Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Penyebabnya sepele, yakni berebut masuk gerbang tol Bogor Outer Ring Road. Insiden kecil itu berlanjut dengan aksi saling salip di jalan tol. Puncaknya, korban dan pengemudi lain menepi, lalu terlibat baku hantam di pinggir jalan. Korban meninggal dunia karena luka-luka yang dideritanya.

Pada 28 Juli 2015, insiden road rage atau amarah di jalan raya juga kembali menghebohkan. Di jalan tol Jakarta Outer Ring Road, seorang pengendara mobil bernama Rahmanto menembakkan peluru senjata airsoft gun miliknya ke mobil lain yang dikendarai seorang warga bernama Dwi.

Meski tak sampai melukai pengendara dan pengemudi mobil, tapi insiden penembakkan ini juga jadi berita besar. Lagi-lagi, penyebabnya hal kecil, yakni aksi saling salip di jalanan.

Kita tak tahu siapa yang kita hadapi di jalanan

“Seharusnya dua insiden itu tidak terjadi kalau salah satu orang yang terlibat bisa mengontrol emosi,” kata Jaya panggilan Wijaya Kusuma Subroto.  Menurut Jaya, mengemudi kendaraan di jalan raya itu bukan sekedar kemampuan mengemudi . “Kalau mau dipersentasekan, sebetulnya skill mengemudi itu hanya berperan 10 persen dalam soal keselamatan di jalan raya, sisanya yang 90 persen justru soal emosi,” ujarnya.

BACA JUGA  Mengemudikan Ambulance

Emosi ini, menurut Jaya, adalah salah satu soft skill yang harus dimiliki pengguna kendaraan sebelum mengemudi di Jalan Raya . Dijalan raya segala kemungkinan bisa terjadi dan menurutnya, kita sebagai pengguna jalan harus menghormati dan berbagi dengan pengendara lainnya. Dijalan kita juga tidak tahu perangai atau kebiasaan pengemudi yang ada disekitar kita.  Bisa saja kita ketemu dengan pengemudi yang mabuk, atau bisa juga ketemu dengan pengemudi yang masih belajar, atau bisa juga pengemudi yang panasan, Segala kemungkinan bisa saja terjadi oleh karena itu defensive adalah cara mengemudi yang benar dibelantara jalan raya yang anda hadapi. 

PT ORD REKACIPTA DINAMIKA